SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ABDI
ALLAH
KONSELING KRISIS, 2SKS, SEMESTER GENAP
2017
Dosen: Pdt. Antonia Pauline Chandra S.Th, M.K.
Mahasiswa: Adirmawati Hia
Program Studi Teologi Semester 6
Judul
Paper: MEMAHAMI TENTANG KRISIS ANAK-ANAK
PENDAHULUAN
Krisis
merupakan sesuatu hal yang sangat membahayakan setiap orang, yang kadang kala
datangnya secara tiba-tiba/mendadak atau dengan kata lain krisis merupakan
keadaan yang tidak baik/berbahaya yang harus secepatnya dibereskan atau
diselesaikan. Pengertian krisis ini bisa dibagi dalam beberapa hal yaitu:
Ø Keadaan
yang berbahaya (dalam menderita sakit), parah sekali.
Ø Keadaan
yang genting, kemelut
Ø Keadaan
yang suram (misalnya tentang ekonomi, moral, psikologi, dll)
Ø Saat
yang menentukan di dalam cerita atau draa ketika situasi menjadi berbahaya dan
keputusan harus diambil.
Ø Krisis
biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi sementara waktu, dengan
perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula
Ø konfrontasi
yang intensif dan dahsyat yang terjadi dalam waktu singkat dan merupakan ganti
peperangan dalam era nuklir.
Berbicara mengenai krisis,
setiap orang pasti akan mengalami hal ini salah satunya adalah anak-anak. Akan
tetapi, pokok pembahasan yang akan penulis bahas adalah krisis yang dialami
oleh anak-anak. Setiap anak mengalami krisis yang berbeda-beda. Beda yang
dialami oleh orang dewasa, anak remaja, dan lain-lain. Salah satu bentuk krisis
yang seringkali dialami oleh anak-anak adalah “Krisis Interaksi Akibat Broken
Home Pada Anak Usia 10-13 Tahun”. Seorang anak selayaknya mendapatkan kasih
sayang orangtua dan tumbuh di dalam lingkungan yang mendukungnya untuk
berkembang. Namun apa jadinya jika anak tersebut tinggal di dalam keluarga yang
tidak harmonis atau broken home ?
Setiap anak pasti merindukan yang namanya tinggal atau memiliki orangtua yang
saling mengasihi dan memiliki bentuk keluarga yang harmonis serta penuh kasih
sayang. Memiliki keluarga yang harmonis adalah kebahagiaan bagi setiap
anak-anak. Selain keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk
berbagi cerita kebahagiaannya, keluarga juga merupakan tempat pembentukan
karakter, moral, spiritual, intelektual dan pembentukan psikologi yang utama
dan yang terutama bagi seorang anak. Sehingga baik atau buruknya perilaku
seorang anak adalah salah satu bentuk didikkan yang diberikan oleh orangtua
dalam keluarga. Seharusnya orangtua menyadari akan kehadiran seorang anak dalam
rumah tangga merupakan anugerah yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. sehingga
demikian orangtua menjaga, memelihara, merawat, membimbing, mendidik, dan
memenuhi apa yang menjadi hak bagi seorang anak (memberikan kasih sayang). Akan
tetapi, sangat disayangkan, banyak orangtua zaman sekarang ini atau keluarga
tidak bisa memenuhi harapan seorang anak tersebut. Keluarga yang awalnya
berjalan baik, hidup harmonis, tapi berjalannya waktu berbagai masalah datang
menerpa dan tidak mampu melaluinya, sehingga menimbulkan keluarga tersebut
hancur berantakan. Hal ini ditandai dengan mulai sering terjadinya pertengkaran
orang tua, hubungan keluarga yang tidak lagi harmonis, hingga berakhir denga
perceraian atau bahkan penelantaran anak. Broken home menjadi istilah umum yang
banyak dikenal untuk menyebut keadaan ini. Dengan berbagai latar belakang yang
menjadi penyebab terjadinya broken home tersebut, anak selalu saja menjadi
pihak yang paling dirugikan. Baik dari segi jasmani maupun psikis mereka.
1.
KELUARGA
a.
Arti Sebuah
Keluarga
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keluarga
adalah bagian dari masyarakat besar yang terdiri dari ibu bapak dan
anak-anaknya
.
Menurut sebuah artikel lain mengatakan
bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian
keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi
baru. Keluarga merupakan suatu perkumpulan dari beberapa orang untuk menjadi
tempat berbagai baik duka maupun suka, saling melengkapi, dan tempat
pembentukan psikis bagi anak.
Menurut 1 Tim. 3: 4-5, 12 “seorang kepala keluarga yang baik, disegani
dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai
keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus jemaat Allah ? Ayat 12
“…mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik”.
Begitu pentingnya dan indahnya jikalau memiliki sebuah keluarga yang berkenan
di hadapan Tuhan dan memiliki keluarga yang terurus dengan baik.
b.
Pentingnya
Sebuah Keluarga
Orang yang
paling dekat dengan kita adalah keluarga kita sendiri. Dalam satu keluarga
terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Terkadang kakek dan nenek tinggal bersama
kita juga. Kita perlu hidup rukun dengan sesame anggota keluarga kita. Keluarga
merupakan orang yang saling membutuhkan satu sama lain dan memiliki fungsi
masing-masing. Keluarga menjalankan fungsinya sesuai dengan tugas dan kewajibannya.
Selain kewajiban, setiap anggota keluarga memiliki hak masing-masing
.
Keluarga sangat penting bagi seorang anak karena keluarga merupakan sebuah
kebersamaan yang mempunyai arti sangat penting, tempat dimana kita bisa
berkumpul, bercanda, serta menuangkan permasalahan yang di hadapi. Mempunyai
peran yang sangat penting dalam kehidupan. Namun waktu untuk bisa berkumpul
bersama itu menjadi sangat langka ketika banyak rutinitas yang dijalani diluar
sana. Keluarga memang segala galanya, berkumpul dan berbahagia bersama,
itu menjadi mimpi semua orang. Kesuksesan yang diperoleh seseorang
memang tidak akan lepas dari dukungan yang namanya keluarga. Banyaknya
kesibukan yang seseorang alami ketika dia sudah bekerja kadang menjadikan
seseorang tersebut sulit meluangkan waktu. Dalam kesibukan apapun sebisa
mungkin tetaplah luangkan waktu bersama.
c.
Peran
Penting Orangtua
Peran orang tua
dalam keluarga sangat penting. Apabila peran sebagai orang tua memenuhi
kewajibannya untuk anak-anaknya akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku
seorang anak. Jika orang tua memberi dampak yang negative bagi anak-anaknya,
anak tersebut juga akan terpengaruh dengan hal-hal negative dan apabila
orangtua memberi dampak yang positif bagi anak-anaknya, akan memberi dampak
yang baik bagi psikologis seorang anak. Orang tua mempunyai peran penting diantaranya
adalah:
o Mendidik
o Menjaga
anaknya, oleh karena itu orangtua harus bisa memahami kondisi jiwa sang anak
o Merawat,
orang tua harus memberikan kasih sayang pada anaknya.
o Mengarahkan,
menegur/menasehati, memberi pengaruh yang baik
Dalam sebuah
keluarga, tidak akan pernah terlepas
dalam sebuah masalah. masalah akan silih berganti datang menerpa
kehidupan manusia khususnya dalam sebuah keluarga (antara orang tua). Dalam
sebuah masalah yang dihadapi oleh orang tua, sasaran utamanya adalah seorang
anak dalam keluarga tersebut. Salah satu masalah yang dihadapi oleh orang tua
adalah pertengkaran. Pertengkarana yang tidak bisa diselesaikan akan
menimbulkan kehancuran keluarga, sehingga menyebabkan kekerasan dan perceraian.
Banyak orang tua yang menghadapi masalah tersebut tanpa memandang tempat dan
waktu, sehingga hal ini melibatkan anaknya. Seharusnya orang tua yang cerdas,
tidak akan pernah memperlihatkan pertengkaran mereka atau melakukan
pertengkaran di depan seorang anak, karena hal ini sangat membahayakan kejiwaan
pada anak. Maka dari itu, orang tua harus secepatnya menyadari akan hal ini,
sehingga seorang anak dalam keluarga tidak tertekan psikisnya.
2.
BROKEN HOME
a.
Pengertian Broken Home
Broken home
(keluarga pecah), dalam bahasa Indonesia adalah perpecahan dalam keluarga.
Broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis
dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena
sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan
berakhir pada perceraian. Istilah “Broken Home” biasanya digunakan untuk
menggambarkan keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga
yang rukun dan sejahtera akibat sering terjadi konflik yang menyebabkan pada
pertengkaran yang bahkan dapat berujung pada perceraian. Hal ini akan berdampak
besar terhadap suasana rumah yang tidak lagi kondusif, orang tua tidak lagi
perhatian terhadap anak-anaknya sehingga berdampak pada perkembangan anak
khususnya anak remaja. Orang tua adalah panutan dan teladan bagi perkembangan
remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua adalah
pembentukan karakter yang terdekat
.
b.
Dampak Negatif Broken Home Terhadap
Anak
ü Kekurangan
kasih sayang
Ketika sepasang suami istri tidak lagi memiliki
hubungan yang harmonis, maka sangat mungkin jika kemudian keegoisan dari
masing-masinglah yang diutamakan. Jika hal ini tidak segera dicarikan jalan
keluar, maka perhatian kepada anak yang akan dikorbankan. Meski sebagian orang
tua yang mengalami broken home
mengetahui apa yang seharusnya ia berikan kepada anaknya, namun karena ego
terhadap pasangan ia menjadi enggan melakukannya.
ü Rentan
menderita gangguan psikis
Akibat
seringkali berada dalam tekanan, kondisi psikis anak juga kerapkali
mengalami gangguan. Seperti ia selalu cemas, mengalami ketakutan, merasa serba
salah dan terjepit diantara kedua orang tuanya, selalu bersedih dan murung.
ü Membenci
orang tuanya
Dengan
kondisi mental yang masih sangat labil, seorang anak bisa jadi akan membenci
ayah, ibu, atau bahkan kedua orang tuanya saat terjadi broken home. Ia belum
bisa memahami dan menerima apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga ia akan
menganggap semua yang terjadi adalah kesalahan salah satu atau kedua orang
tuanya.
ü Permasalahan
moral
Ketika
seorang anak yang sedang berada pada masa perkembangannya selalu dihadapkan
pada pertengkaran-pertengkaran orang tua mereka, maka secara tidak langsung
akan membentuk kepribadiannya menjadi keras dan kasar. Seiring berjalannya
waktu, ia juga akan terbiasa melakukan tindakan-tindakan seperti apa yang
sering ia lihat dari orang tuanya ketika mereka bertengkar, seperti berlaku
kasar, temperamental, bertindak sebagai trouble maker di kelas maupun
teman sepermainan, bersikap acuh tak acuh, memberontak, berperilaku tidak sopan
kepada orang yang lebih tua dan lain sebagainya.
ü Mudah
mendapat pengaruh buruk lingkungan
Saat rumah
tidak lagi terasa nyaman, seorang anak akan berusaha mencari tempat lain untuk
saling berbagi maupun menghibur diri. Pada kondisi seperti ini, biasanya
lingkungan teman sepermainan sering menjadi tujuan mereka. Dan jika lingkungan
tersebut tidak baik, maka akan sangat mudah bagi seorang anak untuk terpengaruh
hal-hal yang menyimpang. Misalnya mulai mencoba merokok, berjudi,
minum-minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bahkan menjajal seks
bebas atau pergi ke tempat pelacuran sebagai pelarian baginya untuk mendapat
kebahagiaan.
ü Tidak
mudah bergaul
Kebalikan
dari poin sebelumnya, anak dari keluarga broken home juga tidak sedikit yang
cenderung lebih menutup diri. Anak-anak tersebut cenderung menarik diri dari
pergaulan karena merasa rendah diri. Dengan kurangnya perhatian dari orang tua,
ia menjadi tidak terbiasa untuk mengekpos diri atau sekedar berbagi cerita,
sehingga ia akan merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar. Selanjutnya ia akan menjadi takut untuk mengenal orang lain. Sebab
lain ialah ia akan malu serta minder jika teman-temannya tahu keadaan keluarganya
yang berantakan, ia juga khawatir jika nantinya mereka akan menjauh dan
mengucilkannya.
ü Tidak
Berprestasi
Dampak lain
ketika seorang anak menjadi korban broken home ialah ia sering
mendapat masalah dalam hal sekolah akademiknya. Permasalahan yang ada dalam
rumah akan membuatnya malas belajar. Pertama bisa jadi karena suasana rumah
yang tidak lagi kondusif untuk belajar akibat sering adanya pertengkaran, atau
karena tidak adanya support orang sekitar yang membuatnya merasa tidak
ada yang harus dibanggakan sehingga tidak perlu susah payah untuk mengukit
prestasi. Hal ini tentu saja berbeda dengan anak-anak yang berasal dari
keluarga utuh yang cenderung memiliki motivasi lebih tinggi dari mereka.
ü Kedangkalan
spiritual
Penanaman
pondasi agama akan baik jika dimulai sejak masih anak-anak, tetapi pada
keluarga broken home anak-anak tersebut seringkali kehilangan kesempatan itu.
Orang tua yang seharusnya menjadi sekolah agama pertama bagi mereka
ternyata tidak menjalankan peran mereka sebagaimana mestinya. Sehingga
anak-anak tersebut tidak dibekali dengan nilai-nilai agama yang kokoh, maka
akan sangat mungkin jika nantinya mereka akan kesulitan dalam menyikapi
berbagai permasalahan akibat tidak mempunyai pedoman hidup yang bisa
mengarahkan.
c.
Penyebab
Terjadinya Broken Home
Factor
penyebab terjadinya orang tua menjadi broken home, disebabkan beberapa hal,
diantaranya adalah sebagai berikut:
·
Perceraian – Baik berpisah
dengan diawali perseteruan maupun dengan cara baik-baik, peceraian masih akan
membawa dampak yang kurang baik bagi psikologi anak. Mengetahui bahwa orang
tuanya tidak lagi bisa bersama merupakan kekecewaan tersendiri bagi mereka.
Terlebih bagi mereka yang setelah terjadinya perceraian hubungan antar keluarga
justru semakin renggang.
·
Orang tua yang tidak dewasa – Ketidakdewasaan
orang tua dalam menyikapi berbagai permasalahan seringkali menjadi penyebab
terjadinya broken home. Padahal adanya permasalahan dalam rumah tangga
merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sehingga jika tidak disertai dengan
sikap dewasa, bisa jadi setiap adanya masalah yang menghampiri justru akan
menjadi ujung tombak keretakan rumah tangga mereka.
·
Orang tua yang kurang bertanggung jawab
– Setiap pernikahan tentu saja membutuhkan adanya tanggung jawab
yang besar baik bagi suami maupun istri. Mulai dari terpenuhinya nafkah,
merawat rumah, membesarkan anak, mengatur pengeluaran rumah tangga dan lain
sebagainya selalu menuntut adanya kerja sama serta tanggung jawab besar bagi
setiap pasangan. Sehingga jika ada salah satu pihak saja lalai dari tanggung
jawabnya, maka keharmonisan rumah tangga tentu akan bemasalah.
·
Kurangnya nilai-nilai agama – Pada
dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan termasuk kepada keluarga. Sehingga,
jika seseorang telah benar-benar memegang teguh pada nilai agama, maka
tidak mungkin baginya untuk berlaku buruk pada keluarganya. Sebaliknya, ketika
nilai-nilai tersebut kurang atau bahkan sama sekali tidak ada, maka akan dengan
mudah bagi seseorang untuk berlaku buruk pada sesame, meskipun itu keluarganya.
·
Permasalahan ekonomi – Perekonomian
rumah tangga yang tidak stabil seringkali memicu terjadinya perselisihan antara
suami istri. Jika masalah ini tidak segera diseleseikan serta tidak disikapi
dengan bijak, maka tentu saja dapat mengancam keutuhan rumah tangga mereka.
·
Hilangnya keharmonisan rumah tangga
– Suasana rumah tidak lagi nyaman jika keharmonisan di dalamnya
telah berkurang atau bahkan sudah tidak ada. Kesibukan orang tua, atau adanya
orang ketiga juga kerap menjadi alasan seseorang tidak bisa lagi mempertahankan
rumah tangganya.
d.
Cara
Mengatasi Anak Yang Broken Home
Banyak yang
mengatakan bahwa anak broken home tidak dapat disembuhkan karena memang sudah
latar belakangnya seperti begitu. Tapi menurut seorang penulis, anak yang
mengalami broken home masih bisa diatasi. Ada pengalaman penulis mengenai anak
yang broken home ini, di dekat rumah penulis dulu ada seorang anak yang
tertekan karena orang tuanya yang terus menerus berkelahi dan tidak pernah
akur, sehingga anak ini tidak akan pernah betah di rumah jika ada kedua orang
tuanya dan selalu bersembunyi di rumah tetangga yang dirasanya sayang padanya. Berikut
ini merupakan cara yang dilakukannya:
-
Melakukan pendekatan yang hangat, sikap persahabatan
yang tulus
-
Memperlakukannya seperti keluarga sendiri
-
Menjadi tempat untuk mendengarkan cerita, keluhan,
tangisan dan kebahagiaannya
-
Mengajarinya berbagai aktivitas yang membuatnya
melupakan masalah orang tuanya
-
Setelah itu mengajaknya untuk berfikir positif terhadap
masalah orang tuanya
-
Menjelaskan padanya mengapa orang tuanya seperti itu
-
Setelah mengkonseling anak, lalu melakukan konseling
pada orang tua secara pribadi-pribadi
Demikianlah
hasil dari penelitian yang dilakukan oleh seorang penulis. Semoga dengan adanya
tulisan ini, dapat mempermudah kita dalam menyelesaikan permasalahan anak yang
bermasalah dalam kejiwaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hunsaker, Philip L. Teknik Pendampingan Dalam Memecahkan Masalah.
Jogjakarta: KANISIUS, 1993.
KBBI.
Murniasih, Elia. Mengenal Keluarga. Jakarta: Januari 2008.
Wright, H. Norman . Konseling Krisis. Malang: Penerbit Gandum Mas, 1996.