Kamis, 06 April 2017

Salah satu penyebab penyakit psikologi pada anak yaitu sulitnya berinteraksi dengan orang lain akibat latar belakang keluarga (broken home))




SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ABDI ALLAH
KONSELING KRISIS, 2SKS, SEMESTER GENAP 2017
Dosen: Pdt. Antonia Pauline Chandra S.Th, M.K.
Mahasiswa: Adirmawati Hia
Program Studi Teologi Semester 6
Judul Paper: MEMAHAMI TENTANG KRISIS ANAK-ANAK

PENDAHULUAN
Krisis merupakan sesuatu hal yang sangat membahayakan setiap orang, yang kadang kala datangnya secara tiba-tiba/mendadak atau dengan kata lain krisis merupakan keadaan yang tidak baik/berbahaya yang harus secepatnya dibereskan atau diselesaikan. Pengertian krisis ini bisa dibagi dalam beberapa hal yaitu:
Ø  Keadaan yang berbahaya (dalam menderita sakit), parah sekali.
Ø  Keadaan yang genting, kemelut
Ø  Keadaan yang suram (misalnya tentang ekonomi, moral, psikologi, dll)
Ø  Saat yang menentukan di dalam cerita atau draa ketika situasi menjadi berbahaya dan keputusan harus diambil.
Ø  Krisis biasanya meliputi hilangnya kemampuan untuk mengatasi sementara waktu, dengan perkiraan bahwa gangguan fungsi emosi dapat kembali seperti semula[1]
Ø  konfrontasi yang intensif dan dahsyat yang terjadi dalam waktu singkat dan merupakan ganti peperangan dalam era nuklir.
Berbicara mengenai krisis, setiap orang pasti akan mengalami hal ini salah satunya adalah anak-anak. Akan tetapi, pokok pembahasan yang akan penulis bahas adalah krisis yang dialami oleh anak-anak. Setiap anak mengalami krisis yang berbeda-beda. Beda yang dialami oleh orang dewasa, anak remaja, dan lain-lain. Salah satu bentuk krisis yang seringkali dialami oleh anak-anak adalah “Krisis Interaksi Akibat Broken Home Pada Anak Usia 10-13 Tahun”.  Seorang anak selayaknya mendapatkan kasih sayang orangtua dan tumbuh di dalam lingkungan yang mendukungnya untuk berkembang. Namun apa jadinya jika anak tersebut tinggal di dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home ? Setiap anak pasti merindukan yang namanya tinggal atau memiliki orangtua yang saling mengasihi dan memiliki bentuk keluarga yang harmonis serta penuh kasih sayang. Memiliki keluarga yang harmonis adalah kebahagiaan bagi setiap anak-anak. Selain keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk berbagi cerita kebahagiaannya, keluarga juga merupakan tempat pembentukan karakter, moral, spiritual, intelektual dan pembentukan psikologi yang utama dan yang terutama bagi seorang anak. Sehingga baik atau buruknya perilaku seorang anak adalah salah satu bentuk didikkan yang diberikan oleh orangtua dalam keluarga. Seharusnya orangtua menyadari akan kehadiran seorang anak dalam rumah tangga merupakan anugerah yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. sehingga demikian orangtua menjaga, memelihara, merawat, membimbing, mendidik, dan memenuhi apa yang menjadi hak bagi seorang anak (memberikan kasih sayang). Akan tetapi, sangat disayangkan, banyak orangtua zaman sekarang ini atau keluarga tidak bisa memenuhi harapan seorang anak tersebut. Keluarga yang awalnya berjalan baik, hidup harmonis, tapi berjalannya waktu berbagai masalah datang menerpa dan tidak mampu melaluinya, sehingga menimbulkan keluarga tersebut hancur berantakan. Hal ini ditandai dengan mulai sering terjadinya pertengkaran orang tua, hubungan keluarga yang tidak lagi harmonis, hingga berakhir denga perceraian atau bahkan penelantaran anak. Broken home menjadi istilah umum yang banyak dikenal untuk menyebut keadaan ini. Dengan berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya broken home tersebut, anak selalu saja menjadi pihak yang paling dirugikan. Baik dari segi jasmani maupun psikis mereka.
1.    KELUARGA
a.      Arti Sebuah Keluarga
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keluarga adalah bagian dari masyarakat besar yang terdiri dari ibu bapak dan anak-anaknya[2]. Menurut sebuah artikel lain mengatakan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru. Keluarga merupakan suatu perkumpulan dari beberapa orang untuk menjadi tempat berbagai baik duka maupun suka, saling melengkapi, dan tempat pembentukan psikis bagi anak. Menurut 1 Tim. 3: 4-5, 12 “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus jemaat Allah ? Ayat 12 “…mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik”[3]. Begitu pentingnya dan indahnya jikalau memiliki sebuah keluarga yang berkenan di hadapan Tuhan dan memiliki keluarga yang terurus dengan baik.
b.      Pentingnya Sebuah Keluarga
Orang yang paling dekat dengan kita adalah keluarga kita sendiri. Dalam satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Terkadang kakek dan nenek tinggal bersama kita juga. Kita perlu hidup rukun dengan sesame anggota keluarga kita. Keluarga merupakan orang yang saling membutuhkan satu sama lain dan memiliki fungsi masing-masing. Keluarga menjalankan fungsinya sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Selain kewajiban, setiap anggota keluarga memiliki hak masing-masing[4]. Keluarga sangat penting bagi seorang anak karena keluarga merupakan sebuah kebersamaan yang mempunyai arti  sangat penting, tempat dimana kita bisa berkumpul, bercanda, serta menuangkan permasalahan yang di hadapi. Mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan. Namun waktu untuk bisa berkumpul bersama itu menjadi sangat langka ketika banyak rutinitas yang dijalani diluar sana. Keluarga memang segala galanya, berkumpul dan berbahagia bersama,  itu menjadi mimpi semua orang. Kesuksesan yang diperoleh  seseorang memang tidak akan lepas dari dukungan yang namanya keluarga. Banyaknya kesibukan yang  seseorang alami ketika dia sudah bekerja kadang menjadikan seseorang tersebut sulit meluangkan waktu. Dalam kesibukan apapun sebisa mungkin tetaplah luangkan waktu bersama.
c.       Peran Penting Orangtua
Peran orang tua dalam keluarga sangat penting. Apabila peran sebagai orang tua memenuhi kewajibannya untuk anak-anaknya akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku seorang anak. Jika orang tua memberi dampak yang negative bagi anak-anaknya, anak tersebut juga akan terpengaruh dengan hal-hal negative dan apabila orangtua memberi dampak yang positif bagi anak-anaknya, akan memberi dampak yang baik bagi psikologis seorang anak. Orang tua mempunyai peran penting diantaranya adalah:
o   Mendidik
o   Menjaga anaknya, oleh karena itu orangtua harus bisa memahami kondisi jiwa sang anak
o   Merawat, orang tua harus memberikan kasih sayang pada anaknya.
o   Mengarahkan, menegur/menasehati, memberi pengaruh yang baik
Dalam sebuah keluarga, tidak akan pernah terlepas  dalam sebuah masalah. masalah akan silih berganti datang menerpa kehidupan manusia khususnya dalam sebuah keluarga (antara orang tua). Dalam sebuah masalah yang dihadapi oleh orang tua, sasaran utamanya adalah seorang anak dalam keluarga tersebut. Salah satu masalah yang dihadapi oleh orang tua adalah pertengkaran. Pertengkarana yang tidak bisa diselesaikan akan menimbulkan kehancuran keluarga, sehingga menyebabkan kekerasan dan perceraian. Banyak orang tua yang menghadapi masalah tersebut tanpa memandang tempat dan waktu, sehingga hal ini melibatkan anaknya. Seharusnya orang tua yang cerdas, tidak akan pernah memperlihatkan pertengkaran mereka atau melakukan pertengkaran di depan seorang anak, karena hal ini sangat membahayakan kejiwaan pada anak. Maka dari itu, orang tua harus secepatnya menyadari akan hal ini, sehingga seorang anak dalam keluarga tidak tertekan psikisnya.
2.      BROKEN HOME
a.    Pengertian Broken Home
Broken home (keluarga pecah), dalam bahasa Indonesia adalah perpecahan dalam keluarga. Broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Istilah “Broken Home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun dan sejahtera akibat sering terjadi konflik yang menyebabkan pada pertengkaran yang bahkan dapat berujung pada perceraian. Hal ini akan berdampak besar terhadap suasana rumah yang tidak lagi kondusif, orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya sehingga berdampak pada perkembangan anak khususnya anak remaja. Orang tua adalah panutan dan teladan bagi perkembangan remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua adalah pembentukan karakter yang terdekat[5].  
b.    Dampak Negatif Broken Home Terhadap Anak
ü  Kekurangan kasih sayang
Ketika sepasang suami istri tidak lagi memiliki hubungan yang harmonis, maka sangat mungkin jika kemudian keegoisan dari masing-masinglah yang diutamakan. Jika hal ini tidak segera dicarikan jalan keluar, maka perhatian kepada anak yang akan dikorbankan. Meski sebagian orang tua yang mengalami broken home mengetahui apa yang seharusnya ia berikan kepada anaknya, namun karena ego terhadap pasangan ia menjadi enggan melakukannya.
ü  Rentan menderita gangguan psikis
Akibat seringkali berada dalam tekanan, kondisi  psikis anak juga kerapkali mengalami gangguan. Seperti ia selalu cemas, mengalami ketakutan, merasa serba salah dan terjepit diantara kedua orang tuanya, selalu bersedih dan murung.
ü  Membenci orang tuanya
Dengan kondisi mental yang masih sangat labil, seorang anak bisa jadi akan membenci ayah, ibu, atau bahkan kedua orang tuanya saat terjadi broken home. Ia belum bisa memahami dan menerima apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga ia akan menganggap semua yang terjadi adalah kesalahan salah satu atau kedua orang tuanya.
ü  Permasalahan moral
Ketika seorang anak yang sedang berada pada masa perkembangannya selalu dihadapkan pada pertengkaran-pertengkaran orang tua mereka, maka secara tidak langsung akan membentuk kepribadiannya menjadi keras dan kasar. Seiring berjalannya waktu, ia juga akan terbiasa melakukan tindakan-tindakan seperti apa yang sering ia lihat dari orang tuanya ketika mereka bertengkar, seperti berlaku kasar, temperamental, bertindak sebagai trouble maker di kelas maupun teman sepermainan, bersikap acuh tak acuh, memberontak, berperilaku tidak sopan kepada orang yang lebih tua dan lain sebagainya.
ü  Mudah mendapat pengaruh buruk lingkungan
Saat rumah tidak lagi terasa nyaman, seorang anak akan berusaha mencari tempat lain untuk saling berbagi maupun menghibur diri. Pada kondisi seperti ini, biasanya lingkungan teman sepermainan sering menjadi tujuan mereka. Dan jika lingkungan tersebut tidak baik, maka akan sangat mudah bagi seorang anak untuk terpengaruh hal-hal yang menyimpang.  Misalnya mulai mencoba merokok, berjudi, minum-minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bahkan menjajal seks bebas atau pergi ke tempat pelacuran sebagai pelarian baginya untuk mendapat kebahagiaan.
ü  Tidak mudah bergaul
Kebalikan dari poin sebelumnya, anak dari keluarga broken home juga tidak sedikit yang cenderung lebih menutup diri. Anak-anak tersebut cenderung menarik diri dari pergaulan karena merasa rendah diri. Dengan kurangnya perhatian dari orang tua, ia menjadi tidak terbiasa untuk mengekpos diri atau sekedar berbagi cerita, sehingga ia akan merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Selanjutnya ia akan menjadi takut untuk mengenal orang lain. Sebab lain ialah ia akan malu serta minder jika teman-temannya tahu keadaan keluarganya yang berantakan, ia juga khawatir jika nantinya mereka akan menjauh dan mengucilkannya.
ü  Tidak Berprestasi
Dampak lain ketika seorang anak menjadi korban broken home ialah ia sering mendapat masalah dalam hal sekolah akademiknya. Permasalahan yang ada dalam rumah akan membuatnya malas belajar. Pertama bisa jadi karena suasana rumah yang tidak lagi kondusif untuk belajar akibat sering adanya pertengkaran, atau karena tidak adanya support orang sekitar yang membuatnya merasa tidak ada yang harus dibanggakan sehingga tidak perlu susah payah untuk mengukit prestasi. Hal ini tentu saja berbeda dengan anak-anak yang berasal dari keluarga utuh yang cenderung memiliki motivasi lebih tinggi dari mereka.
ü  Kedangkalan spiritual
Penanaman pondasi agama akan baik jika dimulai sejak masih anak-anak, tetapi pada keluarga broken home anak-anak tersebut seringkali kehilangan kesempatan itu. Orang tua yang seharusnya menjadi sekolah agama pertama bagi mereka[6] ternyata tidak menjalankan peran mereka sebagaimana mestinya. Sehingga anak-anak tersebut tidak dibekali dengan nilai-nilai agama yang kokoh, maka akan sangat mungkin jika nantinya mereka akan kesulitan dalam menyikapi berbagai permasalahan akibat tidak mempunyai pedoman hidup yang bisa mengarahkan.
c.       Penyebab Terjadinya Broken Home
Factor penyebab terjadinya orang tua menjadi broken home, disebabkan beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut:
·        Perceraian – Baik berpisah dengan diawali perseteruan maupun dengan cara baik-baik, peceraian masih akan membawa dampak yang kurang baik bagi psikologi anak. Mengetahui bahwa orang tuanya tidak lagi bisa bersama merupakan kekecewaan tersendiri bagi mereka. Terlebih bagi mereka yang setelah terjadinya perceraian hubungan antar keluarga justru semakin renggang.
·        Orang tua yang tidak dewasa – Ketidakdewasaan orang tua dalam menyikapi berbagai permasalahan seringkali menjadi penyebab terjadinya broken home. Padahal adanya permasalahan dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sehingga jika tidak disertai dengan sikap dewasa, bisa jadi setiap adanya masalah yang menghampiri justru akan menjadi ujung tombak keretakan rumah tangga mereka.
·        Orang tua yang kurang bertanggung jawab – Setiap pernikahan tentu saja membutuhkan adanya tanggung jawab yang besar baik bagi suami maupun istri. Mulai dari terpenuhinya nafkah, merawat rumah, membesarkan anak, mengatur pengeluaran rumah tangga dan lain sebagainya selalu menuntut adanya kerja sama serta tanggung jawab besar bagi setiap pasangan. Sehingga jika ada salah satu pihak saja lalai dari tanggung jawabnya, maka keharmonisan rumah tangga tentu akan bemasalah.
·         Kurangnya nilai-nilai agama – Pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan termasuk kepada keluarga. Sehingga,  jika seseorang telah benar-benar memegang teguh pada nilai agama, maka tidak mungkin baginya untuk berlaku buruk pada keluarganya. Sebaliknya, ketika nilai-nilai tersebut kurang atau bahkan sama sekali tidak ada, maka akan dengan mudah bagi seseorang untuk berlaku buruk pada sesame, meskipun itu keluarganya.
·        Permasalahan ekonomi – Perekonomian rumah tangga yang tidak stabil seringkali memicu terjadinya perselisihan antara suami istri. Jika masalah ini tidak segera diseleseikan serta tidak disikapi dengan bijak, maka tentu saja dapat mengancam keutuhan rumah tangga mereka.
·        Hilangnya keharmonisan rumah tangga – Suasana rumah tidak lagi nyaman jika keharmonisan di dalamnya telah berkurang atau bahkan sudah tidak ada. Kesibukan orang tua, atau adanya orang ketiga juga kerap menjadi alasan seseorang tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya.
d.      Cara Mengatasi Anak Yang Broken Home
Banyak yang mengatakan bahwa anak broken home tidak dapat disembuhkan karena memang sudah latar belakangnya seperti begitu. Tapi menurut seorang penulis, anak yang mengalami broken home masih bisa diatasi. Ada pengalaman penulis mengenai anak yang broken home ini, di dekat rumah penulis dulu ada seorang anak yang tertekan karena orang tuanya yang terus menerus berkelahi dan tidak pernah akur, sehingga anak ini tidak akan pernah betah di rumah jika ada kedua orang tuanya dan selalu bersembunyi di rumah tetangga yang dirasanya sayang padanya. Berikut ini merupakan cara yang dilakukannya:
-          Melakukan pendekatan yang hangat, sikap persahabatan yang tulus[7]
-          Memperlakukannya seperti keluarga sendiri
-          Menjadi tempat untuk mendengarkan cerita, keluhan, tangisan dan kebahagiaannya
-          Mengajarinya berbagai aktivitas yang membuatnya melupakan masalah orang tuanya
-          Setelah itu mengajaknya untuk berfikir positif terhadap masalah orang tuanya
-          Menjelaskan padanya mengapa orang tuanya seperti itu
-          Setelah mengkonseling anak, lalu melakukan konseling pada orang tua secara pribadi-pribadi
Demikianlah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh seorang penulis. Semoga dengan adanya tulisan ini, dapat mempermudah kita dalam menyelesaikan permasalahan anak yang bermasalah dalam kejiwaannya.
DAFTAR PUSTAKA
1 Timotius 3: 4-5,12. 
Hunsaker, Philip L. Teknik Pendampingan Dalam Memecahkan Masalah. Jogjakarta: KANISIUS, 1993.
KBBI.
Murniasih, Elia. Mengenal Keluarga. Jakarta: Januari 2008.
Wright, H. Norman . Konseling Krisis. Malang: Penerbit Gandum Mas, 1996.


[1]H. Norman Wright. Konseling Krisis (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1996) 11. 
[2]KBBI.
[3]1 Timotius 3: 4-5,12. 
[4]Elia Murniasih. Mengenal Keluarga (Jakarta: Januari 2008). 2.   
[7]Philip L. Hunsaker. Teknik Pendampingan Dalam Memecahkan Masalah (Jogjakarta: KANISIUS, 1993) 44.

2 komentar:

  1. Terimakasih mbak semua yang mbak cantumkan disini, saya baru mengerti tentang anak yang kena penyakit Psikologi, dan juga cara mengatasinya.

    BalasHapus
  2. sama-sama mbak..
    semoga bisa membantu mbak untuk memahami masalah krisis yang dihadapi anak mbak nantinya..

    BalasHapus

Cerita Tentang 2 Sahabat karya Adirmawati Hia

Diantara 2 Sahabat Dan cinta ADIR MAWARTI HIA Pendahuluan Di tengah-tengah perkembangan zaman ini, banyak anak muda yan...